This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 22 November 2012

Beginilah Mereka Menghancurkan Kita, Lalu Bagaimana Sikap Kita…?!

Beginilah Mereka Menghancurkan Kita, Lalu Bagaimana Sikap Kita…?!



Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.
Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”
“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”
“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”
“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”
“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
***
Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?
(Sumber: http://arrahmah.com/read/2012/07/15/21646-beginilah-mereka-menghancurkan-kita-lalu-bagaimana-sikap-kita.html)

Selasa, 13 November 2012

Lebaran pertama dipulau Jawa :(


eh besok di perkirakan akan hujan deras ya??
Lho kok tahu??
Ya..hujan air mata untuk anak rantau spt ku.,,
Hiks.,hiks :(
Subhanallah.,

5 November 2011.,tepat 2 bulan aku disini.,di kota Arek2, d Kota Pahlawan ini.
 Hmm., merevieu kejadian Idul Fitri 1432 H yg lalu. Saat kami semuany *keluarga* kumpul di Sragen tetangganya Solo.,tempat kelahiran Bapak.,Bahagia.,Alhamdulillah tentunya.,kumpulll dengan semua keluarga dng sepupu2,hmm.,bahkan untuk pertama kalinya ku bertemu dengan Bude, Pakde Kalimantan,Om No dll.,yahh...ini adalah lebaran pertama bagiku di pulau Jawa, dan moment kumpul seperti ini sangat jarang bisa terjadi.,tentu saja.,,ya coz saudara Bapak tersebar d beberapa tempat, Jakarta, Kalimantan, Sumatra dan Jawa...ho.,ho.,ho, adohee

      5 September 2011 Setelah selesai berlebaran d Sragen.,,,bagaikan seorang yg akan menuju medan perang , dengan menggunakan kendaraan terbaik kami,sekeluarga ku di antar menuju tempat yg tak pernah kukunjungi.,*tapii pernah kubayangkan bahkan sampai kuimpikan.,Q bagaikan ayam yg akan kehilangan induk, bak bayi yg tau bahwa ia sedang tak bersama Ibunya.,rasanya sedih dan takut bercampur aduk. Bahkan ibuku tak kuasa menahan air matanya dipeluknya aku erat-erat sambil berkata hati-hati disini ya tik jaga diri baik-baik, tak dapat dielakkan perpisahan harus terjadi saat pelan-pelan lambaian tangan yang rasanya mataku tak mau berkedip sedikitpun memandangi kendaraan berwarna hitam itu pelan-pelan menghilang dari pandanganku. resah.,gelisah tapi hatiku berusaha tetap meyakinkan bahwa ada Allah disini dan InsyaAllah kau akan bertemu dengan saudara2 seaqidah.,,yakin.,yakiin.,InsyaAllah.,

Dan besok adalah lebaran Idul Adha pertamaku tanpa keluargaku.,huu,uu.. :( Tapi ku selalu berusaha berhusnuzon dengan ketetapan Allah.,InsyaAllah inilah yg terbaik.,Allah sedang mentarbiyahku,,menyadarkanku betapa nikmat berkumpul bersama keluarga, dan mengajarkan beginilah yg terjadi jika suatu saat aku akan jauh dr orngtua, jka diambil jauh oleh org lain**lho siapa**.,

Hmmm.,Do'aku selalu menyertaimu my parent.,,,
Semoga Allah menjaga dan melindungi kalian.,
Ibukkkkkkkkk,,,Bapakkkkkk,,,,Dedeekkkkk....Aku kangennnn kalian:)


Surabaya, 05 November 2011

Apa Apa Impianmu?& Sudahkah Engkau Menuliskannya?



Apa Impianmu?& Sudahkah Engkau Menuliskannya?


Impian bisa menjadi Realita tapi tidak sebaliknya...
Penulis : Danang Ambar Prabowo, S.Pi (Pembuat Jejak)
“Bukan impian yang harus menyesuaikan dengan kemampuan Anda, tapi Anda sendiri yang harus bisa menyesuaikan kemampuan untuk mencapai impian-impian luar biasa yang telah Anda tuliskan. Itulah hakikat "menuliskan" dan mencapai impian" (Pembuat Jejak)
Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan ini adalah sebuah realita dan sangat jauh dari yang namanya mimpi dan angan-angan, sehingga kemudian mereka mengatakan:
“Realistislah dalam hidup, hidup itu bukanlah dunia khayalan. Jangan bermimpi terlampau tinggi…” dan ungkapan senada lainnya.
Di satu sisi saya sependapat bahwa hidup adalah realitas, namun di sisi lain saya tidak sependapat bahwa memiliki impian yang tinggi hanyalah aktivitas buang-buang waktu semata. Sejarah peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari peran impian (cita-cita) sebagai langkah awalnya. Banyak sosok-sosok luar biasa yang berhasil mencapai titik-titik kemahsyuran kehidupannya dengan mewujudkan impian-impian yang sebelumnya terkesan mustahil di mata orang lain.
Bagi mereka, impian-impian besar yang mereka miliki adalah sebuah ikhtiar bahwa kehidupan ini akan begitu indahnya apabila diisi dengan mewujudkan impian-impiannya. Mereka ingin menjadi bukti, dan bukan sekedar menunggu bukti.
Wright bersaudara sempat dicap sebagai orang gila dan pembual ketika mereka ingin membuktikan bahwa teknologi untuk terbang seperti burung di angkasa akan dapat diciptakan oleh manusia suatu hari nanti. Sebuah impian yang mustahil kala itu, bagaimana mungkin benda yang yang begitu berat bisa terangkat ke udara layaknya burung yang jauh lebih ringan.
Ketika Wright bersaudara berhasil meluncur dengan pesawat sederhana bermesin ganda, semua orang terbelalak kaget, seolah mereka dipaksa menjilat air ludah yang telah mereka ludahkan sendiri. Dan dari sanalah kemudian teknologi modern pesawat terbang berkembang begitu pesatnya hingga menjadikan mudah sebuah perjalanan jauh untuk ditempuh Itulah kekuatan sebuah mimpi.
Adalah seorang lelaki mulia yang pernah hidup di jazirah Arab lebih dari 1400 tahun yang lalu. Ia dianggap gila dan berbahaya oleh penduduk kampung bernama Thaif, beramai-ramai penduduk melontarkan batu-batu kepadanya hingga mengucurlah darah dari kakinya akibat lemparan itu. Hari itu ia memilih untuk menahan diri untuk mewujudkan sebuah cita-cita, mengajarkan risalah akan kesempurnaan Allah SWT di seluruh penjuru dunia, ia-lah Muhammad SAW.
Ketika tertatih-tatih meninggalkan Thaif, datanglah malaikat penjaga gunung kepadanya dan menawarkan untuk menimpakan gunung di atas Thaif. Namun Rasulullah tetap konsisten dengan “impian”-nya untuk mengemban amanah ilahi dan bukan larut dalam kesedihan dan kemarahan, oleh ulah penduduk Thaif, sehingga ia justru berkata:
“Semoga Allah mengampuni mereka. Bila hidayah tidak turun kepada mereka, mungkin hidayah akan turun pada anak cucu mereka"
Subhanallah...
Ternyata, orang-orang yang sukses dalam mencapai dan mewujudkan impiannya adalah mereka yang konsisten dengan usahanya meraih impiannya itu dan tidak tergoyahkan oleh cobaan serta ujian yang menerpanya.
Tentu, realistis adalah hal yang diperlukan dalam kehidupan, namun jika kurang tepat memandang realita maka Anda hanya akan terjebak di sana dalam waktu yang lama.
Ada sebuah kisah menarik yang saya ingat ketika suatu hari saya bertemu dengan seorang mahasiswi asal Indonesia dari Papua. Ia bercerita bahwa ia berasal dari sebuah desa terpencil yang ketika bersekolah saja harus jalan kaki lebih dari 2-3 jam dan itu ia lakukan dari SD-SMA. Banyak warga desanya yang hanya bersekolah sampai SD saja, namun ia tidak mau terjebak dalam realita yang umum terjadi di desanya. Ia bercita-cita sekolah hingga S1 dan jika memungkinkan ia ingin suatu saat melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh adalah ia harus berprestasi di setiap detik waktunya.
Secara logika mungkin akan sangat sulit bagi sosok sepertinya memiliki impian setinggi langit... tapi ia ternyata mampu melakukannya. Ketika ajang olimpiade sains nasional tk SMU di gelar, ternyata ia bisa tembus hingga final di nasional. Sehingga atas rekomendasi Prof. Yohannes Surya, ia mendapatkan kesempatan untuk kuliah S1-nya di Jepang.
Dari kisah itu... coba kita renungi bersama... jika ia menyerah pada realita sebagai anak desa terpencil di papua, mungkin ia hanya akan menuliskan impian yang sama dengan kondisi orang-orang yang ada di desanya. Tapi ternyata tidak demikian. Ia menuliskan mimpi untuk menjadi bukti, bahwa realita di masa depan ditentukan oleh impian dan usaha yang diperjuangkan mulai saat ini. Ia berusaha menyesuaikan kemampuan dirinya untuk bisa memenuhi syarat-syarat tercapainya impian besarnya itu, bukan justru menuliskan impian yang dibatasi oleh kemampuannya.
Ia hanya satu dari jutaan sosok lainnya yang menuliskan impiannya agar kemampuannya bisa ia usahakan untuk dapat mengejar dan mencapai impiannya, dan bukan sebaliknya. Bisa saja Anda yang membaca tulisan ini adalah salah satunya.
Intinya, ketika Anda menuliskan impian-impian Anda, segera sadari dan rinci syarat-syarat apa yang harus Anda penuhi agar impian itu terwujud. Karena impian-impian yang Anda tuliskan itu hanya akan menjadi tulisan saja ketika Anda tidak tahu dari mana memulai mengusahakan agar tercapai. Sederhananya begini...
Jika Anda memiliki impian ingin sekolah ke Jepang, maka syarat yang harus Anda penuhi adalah mendaftarkan diri dalam sebuah program yang bisa membuka jalan Anda ke Jepang. Jika Anda diam saja dan berharap mimpi yang Anda tuliskan itu terwujud dengan sendirinya, itu baru yang namanya bermimpi untuk membuang-buang waktu saja.
Dan... perlu Anda sadari... semakin tinggi sebuah pohon tumbuh, akan semakin kencang angin yang meniup puncaknya. Impian yang tinggi resikonya ketika "jatuh" pasti akan sakit, Impian besar tanggung jawabnya juga besar. Itu sudah sunnatullah, karena dengan "ujian-ujian" itulah sebuah impian ketika tercapai menjadi sebuah nikmat yang luar biasa yang harus kita syukuri.
Bersyukurlah atas apa yang Anda dapatkan kini, karena diluar sana masih banyak yang tidak seberuntung Anda. Sukses selalu :)
Bismillah.,

Q sudah menuliskan impian impian2 ku.,dan smg Allah mengijabahnya.,
Bagaimna dng anda??

Jumat, 02 November 2012

9 Cara Agar Otak tetap cerdas....

9 Cara Agar Otak tetap cerdas :
1. Menarilah, dengan menari kita akan memberikan stimulan kepada otak untuk tetap bekerja, secara global menari membutuhkan ingatan, koordinasi gerakan, keseimbangan motorik, serta mengkoordinir organ tubuh dalam upayanya menimbulkan bahasa tubuh yang inda, hal ini akan sangat baik untuk menjaga agar otak tetap cerdas.
2. Olah raga, otak seperti halnya dengan organ tubuh yang lain memerlukan asupan darah dengan kualitas prima untuk membentul sel-selnya, dengan melakukan olah raga rutin mampu memacu penggantian sel-sel neuron dalam otak manusia, yang artinya ini akan membuat otak tetap cerdas lebih lama.
3. Budayakan sarapan dengan telur, telur mengandung sangat banyak vitamin B, membantu sel saraf membakar glukosa, dan menjadikanya sumber makanan bagi otak, memberika efek anti oksidan bagi otak, serta mampu melindungi neuron dalam otak, dengan demikian kualitas otak terjaga, dan tetnunya Otak tetap cerdas lebih lama.
4. Berganti-gantilah hal yang dilakukan, ini akan membuat seluruh otak berfungsi secara bergantian, jika kita mengerjakan sesuatu hal secara monoton, maka otak akan lekas jenuh tanpa penyegaran, cobalah melakukan suatu pekerjaaan dengan cara yang berbeda, ini juga bisa membuat Otak Tetap Cerdas.
5. Cukupi nutrisi otak anda, anti oksidan sangat mempengaruhi kinerja otak kita, dengan buah buhan serta air yang cukup akan membantu melindungi kerusakan otak dini, ini yang biasa menimbulkan pikun dini, dan ganggungan penyakit otak lainya seperti mudah stress dan lain-lain.
6. Tidur yang cukup, saat tidur ternyata otak merangkai semua informasi-informas yang didapatkan, kinerja otak pada orang yangtidur minimal 7 jam/ hari ternyata lebih baik dari pada yang kurang dari itu.
7. membaca, adalah kegitan rutin yang harus terus dilakukan, karena dengan membaca secara rutin, otak kita akan bekerja konstant mengumpulkan informasi dan kemudia menyimpannya.
8. Mempelajari bahasa lain yang belum dikuasai,Belajar bahasa lain tampaknya dapat meningkatkan kepadatan materi abu-abu di bidang otak yang mengatur perhatian dan memori, kata peneliti Ellen Bialystok, Ph.D.
9. Jagalah kebersihan mulut, mulut yang tidak bersih ternyata membawa berjuta2 bakteri yang mampu dibawa darah menuju organ-oragan vital manusia, termasuk otak, dengan menjaga kesehatan dan kebersihan mulut, maka secara otomatis kita juga menjaga kesehatan otak kita sehingga otak tetap cerdas.

SEMOGA BERMANFAAT ^_^
diambil dari sebuah situs.....

Menjaga diri itu adalah sebuah pilihan,
Bukan bermaksud untuk tak mau terlalu fulgar,
Atau dikira terlalu eksklusif,
Mungkin juga introvert menurut mereka,

aahhhhh,,
Aku hanya ingin mulia dimatamu ya Rabb,,

Bersambung...


jaga hati kami ya Allah...

Pembahasan ini terlalu menarik,,
ooh bukan,,malah amat sungguh sangat menarik,, :D
Makanya dibilang, ,,
Dauroh munakahat biasanya selalu rame,
Sekolah pra Nikah banyak yang dateng,
Mutarobbi semangatt dehh kalau MR uda kasih bahasan ini,
Semuanya fokus, banyak pertanyaan,
Dan jarang ada yang mengantuk,
Itu berdasarkan pengamatanku,,hehe ^__^


Apalagi kalau bukan masalah "pernikahan"


Terkadang juga pertanyaan ini sering menggelitik di fikiranku,
Sebenarnya saya terkadang tidak ingin terlalu memikirkannya,
Tapii,,
Apa ya,,
Mungkin karena terlalu sering ditanya,,
Seperti,,,
Mbak uda punya pacar??? ****jedengg nggak liat apa ini jilbab saya hehe,,
maaf, maaf saya hanya suka merasa harus introspeksi diri jika ditanya begitu,
Apa ada yang salah dengan sikap saya ya,,atau mereka memang berfikiran bahwa menikah itu ya harus dengan pacaran dulu, hayooooo,,tugas siapa ini yang meluruskan miskonsepsi pacaran setelah menikah ini :D

pertanyaan yang agak halus dari mereka,,
Mbak udah punya calon??
hmmm,,,yang ada dalam bayanganku saat ditanya adalah Allah sedang mempersiapkan calon untukku,
Yang aku sendiripun tak tau siapa orang itu,
Tapi aku percaya itu yang terbaik untukku,

 Opsi lain, banyaknya undangan dari teman2, seringnya ledekan kecil dari mereka^^
Atau karena teman- teman sudah pada memomong bayi,,
Sehingga naluri keibuanpun muncul tanpa disadari,
Pengen juga seperti mereka,
Merawat anak, suami dan keluarga,
Bukankah begitu banyak pahala disana,,subhanallah....

Yang lebih tragis mungkin karena didaerahku adek2 tingkatku sudah pada menikah, alhasil didesaku saja sepekan terkadang ada 2 atau tiga penganten,,
aaihh,,makmur sekali bujang gadisnyo ^^


Dan mungkin kebiasaanku membolang juga menjadi alasan untuk itu,
Tak setiap kali,
tapi mungkin sering,,
Yang ingin kutulis disini satu kisah saja,
Saat seorang Ustazah dari Malang yang menikah dengan ikhwan Palembang,
Ketika ada teman dari Palembang yang menikah dengan orang pulau Jawa itu adalah sebuah hal yang amat menyenangkan untukku, betapa tidak, berarti saya akan bertemu dengan teman2 dari PLG yang benar2 saya rindukan,ini sedikit mengobati kerinduan pada kampung halaman,
Saya berangkat naik bis dari terminal Bungurasih Surabaya, rencana awalnya berangkat berdua dengan temanku, tapi karena dia ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya saya berangkat sendiri, jadilah memberanikan diri ketempat yang akupun tak bisa membayangkan seperti apa tempat itu.
Singkat cerita ada seorang mas2 yang duduk disebelah saya,
Seperti biasa saya berusaha menjaga sikap apalagi dengan laki2 yg tidak saya kenal,
Tapi orang itu mulai bertanya ini itu denga saya,
Karena agak risih dengan mengucapkan bismillah didalam hati dan berdo'a semoga Allah mengampuni saya, niat awal hanya berbohong satu hal tp ternyata berteretan,,astagfirullah,
Hmm,,untuk kesekian kalinya saya harus berbohong jika ditanya, mbak sudah menikah??
Karena berharap orang tersebut tidak **mengganggu saya dengan tegas menjawab alhamdulillah sudah,,
saya fikir selesai pertanyaannya ternyata masih banyakkk,,
ooh,,suaminya orang mana, kerja dimana, menikahnya kapan, tinggal rumah orang tua apa sudah punya rumah sendiri, sudah punya anak belum, kenapa tidak pergi dengan suami, kok bawa tasnya besar perginya lama ya?????????
haahhhhh,,,,
repot kalau sudah begini,,,,,coba..kalau saya tidak pergi sendiri,coba klw ada mahram :(

Alasan lain,
Mungkin karena banyaknya status- status ataupun pesan baik itu didunia maya maupun via pesan singkat diHPku,,
Juga banyaknya dauroh, materi tentang ini,,
berupa motivasi ataupun tausiyah dan yang lainnya,,jadinya...

Atau karena anak sulung
dan punya adek satu2nya yang selisih umurnya hanya satu tahun,
Yang terkadang dia lebih sering bercerita tentang teman-teman laki2nya,,
jadinya,,Ayuk kapan wisuda?
Ayuk kapan mau nikah??
Nggak mau kan saya duluinkan***
Ayoo yuk buruan nikah,
gigit bibir sambil berdo'a ya Allah berikanlah di waktu dan keadaan yang tepat menurutMu,

Mungkin juga karena sering teringat nasihat ibuku,
Sekolah tinggi itu boleh,
Tapi jangan lupakan yang satu itu ya,,
Terdiam sambil berdo'a nggeh buk mohon do'akan anakmu bisa menjadi anak yang soleha dan bisa Allah pertemukan dengan ikhwan soleh yang sudah Allah persiapkan,,

Itu hanyalah sepotong kemungkinan- kemungkinan,
yang probabilitasnya tak perlu kau pusingkan untuk menghitungnya,

Tak perlu aku pertanyakan siapa jodohku,
Yang perlu aku lakukan adalah memperbaiki kualitas diriku dihadapanMu dan juga dihadapanmu dan dihadapan mereka,,

Bukankah wanita soleha itu adalah sebaik-baik perhiasan,
Mengapa tak kau coba menjadi bagian dari merka,
Adakah yang lebih indah daripada pilihan-Nya?
Karena apa yang dipilihkan-Nya, tentu yang terbaik untuk kita.
Aku percaya padaMu ya Rabb,
Engkau akan memberikan yang terbaik untukku,
Walaupun benua memisahkan jika kau takdirkan dia untukku maka Engkau pasti akan pertemukan kami dengan caraMu,


Tak perlu menjalin hubungan yang intens,
bahkan aku berharap kita tak pernah terlalu mengenal sebelumnya,
Jika memang berani tak perlu mengumbar lewat banyak hal,
Temui Murabbinya,
Minta ke orang tuanya,

Tirulah cinta Fatimah dan Ali,
Yang bahkan syetan pun tak tau bahwa mereka saling menyukai,
Jaga aku ya Allah, jaga hatiku dari hal-hal yang tidak Kau sukai,
tambatkan hatiku hanya untuk orang yang telah Kau pilihkan untukku,



 



apa arti pertanyaan itu??

membaca tulisan dibawa ini bikin senyum-senyum,,
kok mirip ya :D
 
"Ketika diriku masih kecil orang-orang berpesan kepadaku "rajinlah belajar agar menjadi anak yang pintar ".

Ketika diriku beranjak remaja orang-orang berpesan kepadaku "jangan dulu pacaran takut mengganggu pelajaran. "

Ketika diriku beranjak dewasa, orang-orang bertanya kepadaku "kapan berumah tangga? Lihatlah teman-temanmu sudah berbadan dua"

Sahabatku...
Kita tentu tiada luput dari berbagai pesan maupun pertanyaan seiring perkembangan usia kita.

Ada beberapa di antaranya baik untuk motivasi diri kita agar lebih baik, namun ada juga yang membuat kita tak enak hati, terutama seputar pernikahan.

Sejatinya pernikahan bukan sekedar untuk merubah status, agar tidak lagi lajang dan terlepas dari cemoohan orang.

Namun lebih dari itu pernikahan adalah perjanjian agung yang mesti kita pertanggung jawabkan di hadapan ALLAH SWT.

Oleh karenanya pertimbangkanlah matang-matang karena menyangkut kebahagiaan dan keselamatan kita baik di dunia dan di akhirat.

Cukuplah apa yang ada di sekitar kita menjadi pelajaran berharga...

Tak sedikit masa depan seseorang hancur karena salah memilih pasangan hidup.

Namun tak sedikit pula pasangan yang berbahagia karena memiliki pasangan yang berhati mulia.

Maka pikirkanlah dengan hati yang jernih, jangan menuruti nafsu sesaat apalagi hanya menuruti apa kata orang.

Yang tak kalah penting berkonsultasilah kepada ALLAH.

Mintalah petunjuk-Nya di sepertiga malam agar dipilihkan pasangan yang terbaik menurut-Nya..

Sahabatku..
Adakah yang lebih indah daripada pilihan-Nya?
Karena apa yang dipilihkan-Nya, tentu yang terbaik untuk kita.

InsyaAllah

Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin.
Copas dari Cahaya Bulan